Hint

Senin, 27 Juni 2011

"1 ONS BUKAN 100 GRAM!" » Potret Salah Didikan Sejak Dini

Gara2 Carrefour dan Hypermart memasang tanda "kurma Rp 2,350 / ONS ",  sah2 saja mereka memberikan kita cuman 28 gram, bukan 100 gram spt yg kita duga. pelajaran yg bermanfaat dari tulisan seorang teman bagi kita semua. 
1 ONS BUKAN 100 GRAM !
...Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.
Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons(bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.
SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur diIndonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. Metrologi pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan *Ons bukanlah bagian dari sistem metrik* ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata *tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal* atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, *tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus **Indonesia**.* Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ?
BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.
Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk resmi.
TANGGUNG JAWAB SIAPA ?
Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ; *"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan secara internasional yang menyatakan bahwa : *1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?*
Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?
Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain ndonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?
Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?
Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan *ons yang keliru* ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesiayang konversinya adalah 1 ons *(Depdiknas)* = 100 gram dan 1 pound *(Depdiknas)* = 500 gram. ? Bagaimana "Ons dan Pound *(Depdiknas)*" ini dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.
HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.
Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.
Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.
Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.
Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.
Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat.
Janganlah malah diperberat dengan *pelajaran sampah* yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang
berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.
ACUAN MANA YANG BENAR ?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. *(maaf, ini bukan promosi)* menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi. Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya
diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.
*Salah satu* konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).
1 ounce/ons/onza = 28,35 gram *(bukan 100 g.)*
1 pound = 453 gram *(bukan 500 g.)*
1 pound = 16 ounce *(bukan 5 ons)*
Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ? (ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)
Regards,
-toni-

Sumber : http://politikana.com 

Rabu, 22 Juni 2011

Guru go Blog adalah Guru Pintar

Mohon maaf sebelumnya kalau anda kebetulan guru seperti saya. Judul di atas mungkin ada yang salah menangkap maknanya.

Oke..mari kita berbincang-bincang seputar judul tulisan ini, “Guru GoBlog adalah Guru Pintar”.
Saat ini perkembangan dunia informasi begitu cepatnya. Bahkan tidak lagi diukur dalam hitungan tahun, bulan, atau minggu.  Perkembangan teknologi informasi khususnya dunia internet sudah dalam hitungan jam bahkan detik.
Setiap detik selalu saja kita baca ada berita baru seputar teknologi, handphone, komputer, dan  internet. Sejalan juga dengan berita kriminal baik di dunia nyata maupun dunia maya ini.Setiap hari selalu bertambah jutaan alamat website. Ini bisa kita lihat dari perkembangan hasil pencarian di Search engine Google maupun Yahoo. Satu kata kunci, kita akan menemukan jutaan alamat website yang berkaitan dengan kata itu (istilahnya keyword).
Lebih khusus mari kita tengok kemajuan internet dalam dunia pendidikan saja. Tiap hari selalu bertambah media untuk pembelajaran jarak jauh (e-learning) dengan bantuan sebuah ebook.  Di samping itu, banyak sekolah sudah punya website sendiri. Para guru sudah banyak yang memiliki website atau blog pribadi. Guru yang punya blog inilah yang saya sebut “Guru GO-BLOG” bukan Guru GOBLOK (huruf k diganti huruf G).
Bisa saya asumsikan, guru-guru yang sudah punya blog ini adalah guru-guru yang faham sedikit atau banyak tentang internet. Juga faham bagaimana membuat dan mengelola sebuah blog. Blog ini sendiri merupakan catatan pribadi guru mengenai suatu ide, gagasan, pengalaman, saran, kritik, saling berkomunikasi, kenalan, bahkan banyak juga yang sudah menekuni bisnis internet via blog ini.
Jika semua guru di Indonesia punya blog pribadi, maka saya jamin komunikasi antara sesama guru baik serta kemajuan pendidikan  bisa dipercepat. Ya..ini sebenarnya yang harus diperhatikan oleh Depdiknas. Tidak hanya berkutat soal silabus, RPP, proyek, dll. Tapi bagaimana agar SDM guru di Indonesia bisa lebih cepat maju.
Syukurlah sudah ada langkah awal dengan adanya JARDIKNAS. Dimana setiap sekolah sekarang diberi subsidi jaringan Internet. Walaupun saya pribadi harus mengeluarkan kocek pribadi 250 ribu sebulan untuk langganan internet. Yang terkadang saya telat bayar, karena gaji yg pas-pasan untuk segala keperluan.

Source ://subkioke.wordpress.com

Jumat, 17 Juni 2011

MENYEDIAKAN SOFTWARE

Kami Ferenz Solution Computindo Menyediakan Softaware eBENGKEL dan Software lainnya...dan Software Kami dapat di Modifikasi sesuai kebutuhan dengan harga terjangkau....

Program eBENGKEL adalah Program yang dibuat untuk mempermudah User/ Operator maupun pemilik bengkel dalam melakukan Transaksi dan memudahkan dalam memperoleh Informasi tentang Bengkel baik Data Barang, SupplierTransaksi, Stock bahkan Laporan Rugi Laba dari kegiatan Operasional Bengkel





INFORMASI DETAILNYA :
Febry Lodwyk ( 081806008787  / PIN: 2562FC2D)
E-mail: mr_lodwyck@yahoo.com
YM : lodwyck_2000